Dapat disimpulkan bahwa secara umum sesungguhnya bahwa Pendidikan Kewarganegaraan yang dilaksanakan di berbagai negara mengarahkan warga bangsa itu untuk mendalami kembali nilai-nilai dasar, sejarah, dan masa depan bangsa bersangkutan sesuai dengan nilai-nilai paling fundamental yang dianut bangsa bersangkutan. Sesungguhnya banyak aliran filsafat yang dapat dijadikan pembenar bagi upaya pendidikan kewarganegaraan (civic education). Namun, landasan filsafat tersebut, kemudian, perlu dicari relevansinva dengan kondisi dan tantangan kehidupan nyata dalam masyarakat tertentu, agar civic education (pendidikan kewarganegaraan) mampu memberikan kontribusi yang positif bagi pemecahan persoalan kemasyarakatan yang sedang dan akan dihadapi suatu bangsa atau masyarakat. Oleh karenanya, apapun bentuk pendidikan kewarganegaraan yang dikembangkan di berbagai bangsa, nilai-nilai fundamental dari suatu masyarakat perlu dikembangkan sesuai dengan dinamika perubahan sosial, agar nilai-nilai fundamental tersebut menemukan relevansinya untuk memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pemecahan problem suatu masyarakat.
Menemukan Kembali Relevansi Nilai-Nilai Fundamental
Dengan demikian, pendidikan kewarganegaraan yang dikembangkan di Indonesia seharusnya juga mampu menemukan kembali relevansi nilai-nilai fundamental masyarakat dengan dinamika sosial yang berubah secara cepat. Bagi Muhammadiyah, pendidikan kewarganegaraan yang dikembangkan di lingkungan amal usaha pendidikannya pun harus mampu menemukan kembali relevansi nilai¬nilai fundamentalnya, yaitu nilai-nilai Islam dan keindonesiaan, dengan realitas dinamika sosial yang berkembang dalam masyarakat. Pemerintah sudah memberikan kebijakan yang lebih leluasa dalam pengembangan kurikulum di perguruan tinggi (Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional RI No. 232/U/2000 yang diperkuat dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional RI No. 045/U/ 2002) yang lebih berpihak pada pengembangan school-based management. Oleh karena itu, Perguruan Tinggi Muhammadiyah pun harus mampu mengembangkan kurikulum pendidikan yang menemukan relevansi nilai-nilai historis-fundamental masyarakat muslim di Indonesia dengan konteks dinamika sosial yang berkembang cepat, agar ilmu pengetahuan yang diajarkan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah bisa lebih membumi bagi upaya-upaya pemberdayaan dan pencerahan masyarakat di Indonesia.
Sentuhan Moral dan Social Skills
Seiring dengan dinamika sosial yang berkembang dengan cepat, Perguruan Tinggi Muhammadiyah harus mampu merumuskan kembali orientasi filosofis dalam mengembangkan pendidikan kewarganegaraan bagi mahasiswanya. Dengan orientasi baru tersebut, pendidikan kewarganegaraan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah tidak hanya mengajarkan persoalan-persoalan cognitive domain (moral knowledge) semata, tetapi juga harus memberikan sentuhan moral and social action. Sentuhan moral and social action inilah yang justru harus mendapatkan perhatian dalam skala yang lebih tinggi, agar pendidikan kewarganegaraan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah mampu membentuk mahasiswa menjadi good and responsible citizen (warga yang baik dan bertanggung jawab) sebagai ultimate goal (tujuan utama) yang seharusnya dicapai oleh pendidikan kewarganegaraan. Dengan pendekatan seperti itu, Perguruan Tinggi Muhammadiyah akan mampu menanamkan moral and social skills kepada mahasiswa agar kelak mereka mampu memahami dan memecahkan persoalan¬persoalan aktual kemasyarakatan, seperti toleransi, perbedaan pendapat, empati, pluralisme, kesadaran hukum, tertib sosial, hak asasi manusia, demokratisasi, local wisdom, produktifitas dan kreativitas tinggi, tanggung jawab sebagai anggota dan pemimpin masyarakat, dan sebagainya.
Pengembangan Nilai-Nilai
Fenomena patologi sosial seperti yang telah disebutkan di atas tentunya juga harus menjadi tanggung jawab Perguruan Tinggi Muhammadiyah melalui civic education (pendidikan kewarganegaraan) yang dikembangkannya. Oleh karenanya, agenda penting yang perlu dikembangkan dalam civic education di Perguruan Tinggi Muhammadiyah antara lain sebagai berikut :
1. Pengembangan nilai-nilai demokratis, di antaranya meliputi keadilan, taat pada hukum (rule of law), kebebasan berpendapat dan berasosiasi, keterwakilan, kesetaraan gender, dan majority rules.
2. Pengembangan nilai-nilai kewargaan dan nilai-nilai komunitas (civic and community values), di antaranya meliputi penghargaan atas hak-hak individual, local needs, dan common good.
3. Pengembangan pemerintahan yang bersih (fair government), di antaranya meliputi partisipasi, hak untuk mendapatkan pelayanan secara adil, fairness, dan checks and balances.
4. Pembentukan identitas nasional (national identity), di antaranya berupa reorientasi nation building dalam bentuk bhinneka tunggal ika (unity in differences), independence, dan kebanggaan nasional (national pride).
5. Pengembangan ikatan sosial (social cohession), di antaranya meliputi toleransi (tolerance), keadilan sosial (social justice), dan keberterimaan (acceptance).
6. Pengembangan kehidupan pribadi (self-cultivation), meliputi cenderung pada kebenaran (truth), tunduk pada hukum (law abiding), jujur (honesty), kesopanan (civility), dan tolong-menolong (helping others).
7. Pengembangan kehidupan ekonomi (economic life), di antaranya meliputi persaingan sehat (fair competition), kesejahteraan (wealth), kewirausahaan (entepreneurship), dan pasar bebas (free market).
8. Pengembangan nilai-nilai keluarga (family values), di antaranya meliputi rasa tanggung jawab (respect), dukungan (support), perlindungan (protection), akhlak (moral behavior), sadar gender (gender sensitive), dan kebersamaan (togetherness).
Sejarah panjang Muhammadiyah memiliki landasan historis dan nilai¬nilai keislaman yang cukup kuat untuk melakukan pencerahan dan pemberdayaan masyarakat. Dan hal ini harus dirumuskan kembali untuk menjadi nilai-nilai fundamental guna ditemukan kembali relevansinya dengan persoalan-persoalan sosial yang dinamis berkembang cepat di masyarakat. Dan oleh karenanya, Perguruan Tinggi Muhammadiyah memiliki peran yang signifikan untuk mengaktualisasikan nilai-nilai Islam untuk menjadi spirit pendidikan kewarganegaraan bagi mahasiswanya, agar ilmu pengetahuan yang diajarkan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah memiliki landasan nilai yang kokoh dan membumi bagi upaya pencerahan, pemberdayaan, dan pendidikan masyarakat yang lebih luas.
Ditulis kembali dari: Asykuri ibn Chamin dkk, Civic Education, Pendidikan Kewarganegaraan, Diktilitbang Majelis Pendidikan Tinggi, Yogyakarta, 2003
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Minggu, 25 Oktober 2009
Minggu, 21 Juni 2009
SATU GURU SATU LAPTOP: Penerapan Pembelajaran Berbasis ICT di SMP Muhammadiyah Gombong
z
Sesuai dengan visinya, Teladan dalam Imtak Terdepan dalam Ipteks, mau tidak mau SMP Muhammadiyah Gombong, harus selalu melakukan inovasi dalam pembelajaran. Terlebih lagi sebagai bagian dari Perserikatan Muhammadiyah, selain memiliki tanggungjawab dakwah, juga memiliki tanggungjawab mencerdaskan dan memajukan umat. Juga dalam menghadapi kemajuan teknologi yang ada dikehidupan masa mendatang.
Salah satu inovasi pembelajaran yang sedang dilakukan adalah Penerapan Pembelajaran Berbasis ICT (TIK). Dalam upaya penerapan pembelajaran berbasis TIK, sebenarnya sudah dirintis sejak 3 tahun yang lalu, dengan dibangunnya laboratorium komputer yang telah terkoneksi dengan internet, yang dapat menampung 25 peserta didik atau satu kelas secara bersama-sama.
Walau masih terbatas pada Mata Ajar TIK dan beberapa guru yang memanfaatkan sebagai media pembelajaran, paling tidak sudah bisa mengenalkan peserta pada teknologi informasi dan komunikasi. Beberapa pengajar juga dapat memanfaatkan untuk melaksanakan KBM ketika ruangan tersebut tidak digunakan untuk kegiatan praktik mata ajar TIK.
Bahkan SMP Muhammadiyah Gombong, sempat mengadakan pelatihan-pelatihan komputer dan pengenalan internet bagi guru-guru Sekolah Dasar dan Perangkat Desa di sekitar Kecamatan Gombong pada bulan Juni dan Juli 2008. Pada tanggal 24 Mei 2009 yang lalu digunakan untuk pelaksanaan Diklat Penentuan Jadwal Sholat dan Arah Kiblat bagi Takmir Masjid, Guru, Pelajar, Mahasiswa dan Umum di sekitar Gombong dan Karanganyar
Untuk lebih memantapkan penerapan pembelajaran berbasis TIK , SMP Muhammadiya Gombong melakukan suatu gebrakan, yaitu Pengadaan Laptop bagi Guru, Satu Laptop Satu Guru. Memang pengadaan laptop tersebut dilakukan dengan cara membeli dengan mengangsur. Namun pihak sekolah bekerja sama dengan Pimpinan Cabang Muhammadiyah Gombong memberikan subsidi, sehingga tidak terlalu memberatkan para guru.
Mungkin ada pihak yang memandang bahwa tindakan tersebut terlalu muluk. Tetapi untuk menuju suatu kemajuan dan inovasi kebijakan tersebut merupakan langkah tidak salah. Bahkan bisa dikatakan sebagai cara untuk mendorong para guru untuk lebih mengenal-memanfaatkan komputer dan internet sebagai media pendidikan dan tidak hanya tergantung pada buku-buku ajar serta dapat memperkaya materi ajar melalui media internet.
Ke depannya dalam kegiatan pembelajaran guru menggunakan laptopnya masing. Materi pembelajaran yang disampaikan tersimpan didalam laptop dan disampaikan melalui monitor yang terpasang didepan kelas atau menggunakan proyektor. Tidak hanya untuk kegiatan pembelajaran, adminstrasi guru pun dilakukan dengan laptopnya masing-masing.
Memang, jika satu laptop satu siswa sebagai media belajar maupun pembelajaran belum dapat diwujudkan, seperti yang telah terlaksana di Vietnam. Tetapi sebagai media pembelajaran, tepatnya media penyampaian materi kepada siswa disampaikan melalui monitor LCD 40” yang terpasang di depan kelas. Menurut rencana 8 ruang belajar menggunakan monitor, untuk saat ini telah terpasang 4 monitor.
Bagi siswa juga disediakan Pojok Internet, media diluar kelas kelas yang khusus diperuntukan bagi siswa yang akan mengunduh materi pembelajaran atau mengunggah tugas-tugas pelengkap pembelajaran. Bahkan untuk keperluan-keperluan informasi dan komunikasi lainnya.
Akan lebih lengkap lagi akses internet dapat dilakukan melalui hotspot. Perangkat hotspot tengah dipersiapkan, dengan jangkauan +/- 200m. Guru (dan siswa) akan lebih mudah mengakses internet untuk keperluan kegiatan pembelajaran.

Sesuai dengan visinya, Teladan dalam Imtak Terdepan dalam Ipteks, mau tidak mau SMP Muhammadiyah Gombong, harus selalu melakukan inovasi dalam pembelajaran. Terlebih lagi sebagai bagian dari Perserikatan Muhammadiyah, selain memiliki tanggungjawab dakwah, juga memiliki tanggungjawab mencerdaskan dan memajukan umat. Juga dalam menghadapi kemajuan teknologi yang ada dikehidupan masa mendatang.
Salah satu inovasi pembelajaran yang sedang dilakukan adalah Penerapan Pembelajaran Berbasis ICT (TIK). Dalam upaya penerapan pembelajaran berbasis TIK, sebenarnya sudah dirintis sejak 3 tahun yang lalu, dengan dibangunnya laboratorium komputer yang telah terkoneksi dengan internet, yang dapat menampung 25 peserta didik atau satu kelas secara bersama-sama.
Walau masih terbatas pada Mata Ajar TIK dan beberapa guru yang memanfaatkan sebagai media pembelajaran, paling tidak sudah bisa mengenalkan peserta pada teknologi informasi dan komunikasi. Beberapa pengajar juga dapat memanfaatkan untuk melaksanakan KBM ketika ruangan tersebut tidak digunakan untuk kegiatan praktik mata ajar TIK.
Bahkan SMP Muhammadiyah Gombong, sempat mengadakan pelatihan-pelatihan komputer dan pengenalan internet bagi guru-guru Sekolah Dasar dan Perangkat Desa di sekitar Kecamatan Gombong pada bulan Juni dan Juli 2008. Pada tanggal 24 Mei 2009 yang lalu digunakan untuk pelaksanaan Diklat Penentuan Jadwal Sholat dan Arah Kiblat bagi Takmir Masjid, Guru, Pelajar, Mahasiswa dan Umum di sekitar Gombong dan Karanganyar
Untuk lebih memantapkan penerapan pembelajaran berbasis TIK , SMP Muhammadiya Gombong melakukan suatu gebrakan, yaitu Pengadaan Laptop bagi Guru, Satu Laptop Satu Guru. Memang pengadaan laptop tersebut dilakukan dengan cara membeli dengan mengangsur. Namun pihak sekolah bekerja sama dengan Pimpinan Cabang Muhammadiyah Gombong memberikan subsidi, sehingga tidak terlalu memberatkan para guru.
Mungkin ada pihak yang memandang bahwa tindakan tersebut terlalu muluk. Tetapi untuk menuju suatu kemajuan dan inovasi kebijakan tersebut merupakan langkah tidak salah. Bahkan bisa dikatakan sebagai cara untuk mendorong para guru untuk lebih mengenal-memanfaatkan komputer dan internet sebagai media pendidikan dan tidak hanya tergantung pada buku-buku ajar serta dapat memperkaya materi ajar melalui media internet.
Ke depannya dalam kegiatan pembelajaran guru menggunakan laptopnya masing. Materi pembelajaran yang disampaikan tersimpan didalam laptop dan disampaikan melalui monitor yang terpasang didepan kelas atau menggunakan proyektor. Tidak hanya untuk kegiatan pembelajaran, adminstrasi guru pun dilakukan dengan laptopnya masing-masing.
Memang, jika satu laptop satu siswa sebagai media belajar maupun pembelajaran belum dapat diwujudkan, seperti yang telah terlaksana di Vietnam. Tetapi sebagai media pembelajaran, tepatnya media penyampaian materi kepada siswa disampaikan melalui monitor LCD 40” yang terpasang di depan kelas. Menurut rencana 8 ruang belajar menggunakan monitor, untuk saat ini telah terpasang 4 monitor.
Bagi siswa juga disediakan Pojok Internet, media diluar kelas kelas yang khusus diperuntukan bagi siswa yang akan mengunduh materi pembelajaran atau mengunggah tugas-tugas pelengkap pembelajaran. Bahkan untuk keperluan-keperluan informasi dan komunikasi lainnya.
Akan lebih lengkap lagi akses internet dapat dilakukan melalui hotspot. Perangkat hotspot tengah dipersiapkan, dengan jangkauan +/- 200m. Guru (dan siswa) akan lebih mudah mengakses internet untuk keperluan kegiatan pembelajaran.
Sabtu, 16 Mei 2009
SEKOLAH GRATIS: Masih Tanda Tanya

Wacana sekolah gratis langsung dengan cepat melekat di benak hampir seluruh penghuni negeri ini. Sebuah harapan yang terus dinanti, ketika setiap anak negeri bisa mengenyam bangku sekolah, tanpa ada yang membebani, yaitu biaya, salah satunya.
Mungkin selama ini ada terkesan bahwa sekolah merupakan kegiatan yang 'mahal'. Banyak orang awam masih melihat seperti itu. Terlekat dalam benak awam, bahwa dalam kegiatan sekolah dipastikan akan mengeluarkan biaya yang (tentunya) tidak sedikit bagi sebagian lapisan.
Dari awal seorang anak menginjakkan kaki disekolah, orang tua sudah dibayangi oleh jumlah uang yang harus dipersiapkan. Dari mulai seragam, uang kegiatan, juga dana pengembangan yang dijadikan sebagai bahan omongan ketika bertemu dengan teman, rekan atau famili.
Dan terlihat dalam kenyataan banyak ditemui di berbagai pelosok negeri ini, anak usia sekolah berada dilingkungan kerja, dikeramaian, atau lingkungan umum pada jam sekolah. Bukan karena bolos sekolah (banyak juga yang seperti itu) tetapi karena mereka harus memenuhi kebutuhan ekonomi, yang seharus belum waktu mereka jalani, sehingga mereka harus merelakan kesempatan belajar mereka.
Kenyataan yang Ada
Jika permasalah tersebut dilhat dari pandangan orang tua atau wali siswa, memang sebisa mungkin sekolah gratis. Tetapi jika permasalah tersebut dilihat dari cara pandang sekolah, maka akan terlihat mengapa mereka menarik dana dari siswa melalui orang tua atau walinya.
Sebuah sekolah jika hanya mengandalkan pembiayaan kegiatan sekolah dari dana pemerintah, maka pengembangan kegiatan sekolah dipandang akan mengalami kemandekan.
Dana Pendidikan di Indonesia ini memang sedang ditingkatkan, tetapi dana tersebut tidaklah tak terbatas. Selama ini dana pendidikan dari pemerintah yang sampai di sekolah (negeri juga swasta) mungkin saja akan digunakan untuk membiayai seluruh kegiatan sekolah termasuk untuk memberi honor untuk guru yang belum PNS serta kesejahteraan guru dan karyawan. Lebih utama, dana pendidikan digunakan untuk membiayai pengembangan sarana-prasarana pendukung kegiatan belajar mengajar. Idealnya demikian. Pengembangan sarana-prasarana pembelajaran idealnya terus berjalan, untuk mewujudkan kualitas sistem dan lembaga pendidikan.
Cukupkah dana pendidikan yang sampai ke sekolah digunakan untuk mengisi anggaran pengembangan sarana dan prasarana sekolah. Dapatkah dana tersebut mem-backup kegiatan-kegiatan pendukung KBM, kegiatan siswa diluar KBM atau untuk pemeliharaan sarana-prasarana sekolah tanpa memungut dana dari orangtua/wali siswa.
Pendidikan Yang Berkualitas?
Selama ini belum juga terlihat jelas kualitas hasil pendidikan di Indonesia. Masih sangat terkesan bahwa pendidikan yang ada sekedar menjalankan hal yang semestinya berlangsung atau sekedar menggugurkan kewajiban. Kualitas mendasar dari hasil kegiatan pendidikan, yaitu manusia yang berkualitas secara moral bahkan spiritualnya masih terabaikan. Keunggulan pengetahuan, nilai rapot atau nilai ijazah masih menjadi menu utama kegiatan belajar mengajar.
Sangat jelas terlihat, diterapkannya batas kelulusan yang selalu meningkat tiap tahunnya lebih mendorong sekolah untuk mengejar target tersebut. Tidak sedikit sekolah yang ingin siswanya lulus ujian nasional dengan cara meninggalkan mapel-mapel non ujian nasional dalam pelaksanaan pembelajarnnya. Bahkan melakukannya dengan cara-cara yang sehatusnya terjadi lingkungan pendidikan.
Yang jadi permasalahan adalah mampukah sekolah-sekolah (diantaranya sekolah negeri) mengembangkan sistem pembelajaran yang berkualitas tanpa memungut tambahan dana dari siswa.
Selasa, 31 Maret 2009
MANFAAT BLOG BAGI GURU

Internet dan Manfaatnya
Dunia saat ini tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu. Teknologi IT telah mendobrak belenggu ruang dan waktu. Segala hal dapat dilakukan melampaui ruang dan waktu. Bahkan umurpun tidak membatasinya, yang tua bahkan yang belia dapat menmbus keterbatasan di dunia ini.
Internet adalah salah satu teknologi IT yang berhasil dikembangkan oleh manusia. Bebagai kegiatan dapat dilakukan melalui keberadaan internet, bahkan kegiatan-kegiatan yang tidak ada kaitannya dengan IT.
Memang segala sesuatu memiliki resiko. Internet sebagai suatu produk teknologi pasti membawa berbagai pengaruh, baik positif maupun negatif.
Terlepas dari pengaruh-pengaruhnya, yang jelas internet memiliki manfaat bagi kehidupan manusia terutama dalam bidang informasi. Segala bentuk informasi dapat disampaikan dan diterima dengan cepat dengan mengesampingkan jarak dan waktu. Termasuk dalam bidang pendidikan. Dapat dikatakan bahwa internet merupakan tantangan masa kini menuju masa depan, dengan pengaruh pengaruhnya.
Pengaruh-pengaruh buruk dari adanya internet secara teknis (mungkin) dapat diantisipasi. Banyak perangkat-perangkat lunak yang dapat digunakan untuk menangkal pengaruh buruk internet tersedia di internet. Kehati-hatian, tanggung-jawab pengguna serta pengawasan orang dewasa terhadap anak-anak sedikit banyak dapat mengatasi pengaruh buruk internet.
Manfaat Internet dalam Pendidikan
Hampir semua kalangan mengenal internet, tidak hanya orang dewasa, anak-anak kecilpun mulai mengenal internet. Bahkan, salah satu produk internet, chatting banyak digandrungi oleh para remaja hingga anak-anak. Game secara online saat ini sedang mengalami booming, para remaja memainkankannya secara bersama pada tempat yang berbeda dengan jarak yang tak terpikirkan. Masih banyak fasilitas yang disediakan internet, transaksi produk, tranformasi ilmu, budaya, sejarah dan banyak lagi yang dapat diakses. Fasilitas-fasilitas tersebut tersedia dalam bentuk situs (yang dikenal dengan website) atau blog.
Internet juga dapat digunakan untuk mendukung kegiatan pendidikan. Penyampaian materi pembelajaran, pengumpulan tugas, konsultasi dalam hal pendidikan bahkan untuk akses nilai, yang semuanya dapat dilakukan secara jarak jauh atau online. Proses pembelajaran dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun bahkan dalam jarak yang jauh. Bagi peserta didik materi tidak hanya didapatkan dari guru tetapi dapat didapat melalui browsing (menjelajahi situs-situs internet). Bahkan pendidik dan peserta didik dapat mengembangkan pengetahuan untuk pengayaan materi.
Manfaat Blog bagi Guru
Istilah blog merupakan kependekan dari Weblog, yang digunakan untuk menyebut kelompok website pribadi yang selalu diupdate secara kontinyu dan berisi link-link ke website lain yang mereka anggap menarik disertai dengan komentar-komentar mereka sendiri.Blog merupakan teks dokumen, gambar, obyek media, dan data yang tersusun secara rapi dan menurut kronologi tertentu, yang dapat dilihat melalui browser internet dan biasanya berisi catatan atau jurnal pribadi. Diantara penyedia skin blog gratis adalah; blogspot, wordpress, multiply dan masih banyak lagi.Istilah weblog pertama kali digunakan oleh Jorn Barger pada bulan Desember 1997. Hingga saat ini blog berkembang dengan pesat. Diantara pengguna blog adalah para remaja, mahasiswa, politisi, selebiritis hingga anak-anak usia belia.
Blog memberi keleluasaan bagi para pengunanya untuk menulis, mengungkapkan apapun yang ada di dalam benaknya. Ide-ide cemerlang, pengalaman-pengalaman menarik atau hanya sekedar catatan harian dapt di publikasikan kepada pengguna internet yang lain. Blog juga dapat dimanfaatkan menjadi semacam situs yang murah karena banyak penyedia layanan blog gratis. Melalui blog seseorang dapat dikenal oleh orang lain dilain tempat bahkan dengan jarak yang jauh.
Blog menawarkan pilihan bagi pengguna sebagai sarana menulis, berdiskusi dan berbagi pengetahuan pengguna lain, blog juga merupakan sarana yang cepat dan mudah sebagai sarana penyebaran hasil-hasil penelitian, penataran, penelitian, workshop dan berbagai macam tulisan lainnya.
Begitu luasnya manfaat blog, alangkah tepat jika dimafaatkan sebagai sarana untuk mendukung kegiatan belajar dan mengajar(KBM). Proses KBM dapat terbantu dengan adanya fasilitas-fasilitas yang ada didalam blog. Banyak kemudahan-kemudahan yang dapat dilakukan melalui blog. Proses KBM dapat dilakukan diluar kelas, penyampaian materi, pemberian tugas serta pengumpulannya atau bahkan kegiatan evaluasi.
Bagi guru sendiri blog memiliki beberapa manfaat beberapa, antara lain :
1. Sarana Aktualisasi Diri
segala sesuatu yang berkaitan dengan tugas keseharian guru dapat ditampilkan dalam blog yang dikelola untuk dapat dibaca oleh guru lain atau siswa.
2. Sarana Pembuka Wawasan
proses pencarian dengan search engine yang terus menerus akan membuka dan menambah wawasan guru tentang dunianya dan dunia ilmu pengetahuan pada umumnya
3. Meningkatkan Ketrampilan Menulis
Dengan sering menulis dalam blog, keterampilan menulis akan meningkat dengan sendirinya
4. Sarana Berbagi Informasi
Penyebaran informasi akan berjalan dengan cepat dan mudah, karena pengelola blog dapat saling memberi link dengan blog lain.(Rusdi Mustapa, S.Pd. http://mansurakarta.com)
5. Sarana Tutorial Pembelajaran
Guru dapat membuat dan meresume materi pelajaran kemudian meletakkannya ke dalam sebuah blog, sehingga siswa dapat mengakses materi guru dengan mudah, tanpa dibatasi oleh waktu dan tempat. Penggunaan blog sebagai media pembelajaran sangat usabilitas (mudah digunakan) dan maintanabel (mudah dikelola dan dirawat).
Demikian manfaat yang ada pada internet, khususnya blog, yang dapat digunakan untuk berbagai kepentingan pendidikan. Keberadaan blog yang kaya manfaat masih jarang dimanfaatkan oleh sebagian guru. Padahal keberadaan blog bagi guru kalau kita kaji secara mendalam mempunyai banyak manfaat.
Label:
blog,
e-learning,
guru,
internet,
pendidikan
Kamis, 19 Maret 2009
SINETRON INDONESIA: MAKANAN TERKONTAMINASI BAHAN BERBAHAYA
Hampir semua orang di Inonesia khususnya sangat menyukai sinetron. Di pasar, di sekolah, di beranda rumah, bahkan mungkin di sawah. Di sela-sela perbincangan saat orang sedang bekerja atau duduk-duduk, tidak jarang terselip cerita tentang cerita di sinetron. Mereka menceritakan kejadian di sinetron seakan-akan itu kejadian yang benar-benar terjadi. Bahkan mengungkapkan simpati terhadap tokoh yang tertindas. Tidak jarang mereka cerita sampai menangis.
Begitu merasuknya cerita sinetron ke dalam hati para pemirsa televisi Indonesia hampir di semua lini kehidupan. Maka dari pihak produser berlomba-lomba menciptakan sinetron yang mudah dicerna oleh masyarakat. Mereka berlomba-lomba merebut hati khalayak pemirsa televisi untuk dapat mengangkat rating mereka. Sampai-sampai membuat cerita sinetron yang sama dengan seting dan tokoh yang berbeda. Kalau perlu sinetron dibuat cerita yang berlanjut walaupun sering tidak masuk akal.
Mungkin bila hanya sekedar menonton tidak masalah, tapi sering sudah menjadi suatu baggian dari kehidupan. Tidak ada hari tanpa menonton sinetron. Mereka sangat getun, merasa rugi jika terlewatkan satu seri sekalipun. Apalagi sampai melalaikan kewajiban-kewajiban yang seharusnya dilakukan. Menyuapi anak sambil nonton, atau yang seharusnya menemani anak belajar.
Anak-anak usia sekolah juga ikut terhanyut oleh acara sinetron yang sebagian besar sangat bertentangan dengan nilai-nilai pendidikan. Banyak memang sinetron yang mengambil seting pendidikan, agama atau memperlihatkan moralisme, tetapi dalam kenyataan bertentangan dengan itu.
Ambil contoh sinetron Muslimah, mengambil seting seorang wanita muslimah, latar belakang Islam tetapi menyertakan hal-hal diluar nalar serta tahayul. atau pada judul-judul lain yang hampir sama.
Dulu ada Bawang Putih Bawang Merah seekarang Amara dan Kasih, dua sinetron sama beda judul. Sinetron tersebut mengambil seting dunia remaja serta sesekali tempat pendidikan. walaupun melibatkan situasi pendidikan tetapi sangat jauh dari usaha mendidik.
Masih banyak lagi sinetron yang seakan-akan menggambarkan upaya pendidikan tetapi, sekali lagi sangat jauh dari dunia pendidikan. Boleh dikatakan lebih cocok pembodohan, pembelokan arti sekolah, pengkaburan sosok pendidik (guru), serta penanaman sikap benci.
Kenyataan seperti itu yang sering kita lihat di dunia sinetron, kita hanya bisa mengelus dada serta prihatin, karena tidak dapat berbuat banyak. Segala upaya untuk menghentikan pengaruh-pengaruh buruk sulit untuk ditindak lanjuti karena terbentuk kekuatan modal raksasa dengan berbagai argumen juga kapitalnya menghalangi upaya -upaya tersebut.
Mungkin dapat saya gambarkan seperti pada judul. Sinetron kita ibarat makanan di pasaran resmi yang terkontaminasi oleh bahan-bahan berbahaya, tetapi tak ada yang bisa menghentikan peredarannya.
Begitu merasuknya cerita sinetron ke dalam hati para pemirsa televisi Indonesia hampir di semua lini kehidupan. Maka dari pihak produser berlomba-lomba menciptakan sinetron yang mudah dicerna oleh masyarakat. Mereka berlomba-lomba merebut hati khalayak pemirsa televisi untuk dapat mengangkat rating mereka. Sampai-sampai membuat cerita sinetron yang sama dengan seting dan tokoh yang berbeda. Kalau perlu sinetron dibuat cerita yang berlanjut walaupun sering tidak masuk akal.
Mungkin bila hanya sekedar menonton tidak masalah, tapi sering sudah menjadi suatu baggian dari kehidupan. Tidak ada hari tanpa menonton sinetron. Mereka sangat getun, merasa rugi jika terlewatkan satu seri sekalipun. Apalagi sampai melalaikan kewajiban-kewajiban yang seharusnya dilakukan. Menyuapi anak sambil nonton, atau yang seharusnya menemani anak belajar.
Anak-anak usia sekolah juga ikut terhanyut oleh acara sinetron yang sebagian besar sangat bertentangan dengan nilai-nilai pendidikan. Banyak memang sinetron yang mengambil seting pendidikan, agama atau memperlihatkan moralisme, tetapi dalam kenyataan bertentangan dengan itu.
Ambil contoh sinetron Muslimah, mengambil seting seorang wanita muslimah, latar belakang Islam tetapi menyertakan hal-hal diluar nalar serta tahayul. atau pada judul-judul lain yang hampir sama.
Dulu ada Bawang Putih Bawang Merah seekarang Amara dan Kasih, dua sinetron sama beda judul. Sinetron tersebut mengambil seting dunia remaja serta sesekali tempat pendidikan. walaupun melibatkan situasi pendidikan tetapi sangat jauh dari usaha mendidik.
Masih banyak lagi sinetron yang seakan-akan menggambarkan upaya pendidikan tetapi, sekali lagi sangat jauh dari dunia pendidikan. Boleh dikatakan lebih cocok pembodohan, pembelokan arti sekolah, pengkaburan sosok pendidik (guru), serta penanaman sikap benci.
Kenyataan seperti itu yang sering kita lihat di dunia sinetron, kita hanya bisa mengelus dada serta prihatin, karena tidak dapat berbuat banyak. Segala upaya untuk menghentikan pengaruh-pengaruh buruk sulit untuk ditindak lanjuti karena terbentuk kekuatan modal raksasa dengan berbagai argumen juga kapitalnya menghalangi upaya -upaya tersebut.
Mungkin dapat saya gambarkan seperti pada judul. Sinetron kita ibarat makanan di pasaran resmi yang terkontaminasi oleh bahan-bahan berbahaya, tetapi tak ada yang bisa menghentikan peredarannya.
Langganan:
Postingan (Atom)